Akhir-akhir ini kebutuhan terhadap buah kelapa muda, gula kelapa, nata de coco dan arang batok kelapa, dan lain-lain produk turunan olahan kelapa, kembali meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan , strategi pengembangan sistem agribisnis kelapa adalah jawabannya. Sistem agribisnis adalah suatu proses fungsi produksi yang akan menghasilkan produktivitas kelapa secara optimal dan berbagai macam produk olahan kelapa lainnya yang bermanfaat. Oleh sebab itu strategi tersebut harus merupakan keterpaduan dan keberlanjutan masing-masing sub sistem agribisnis.
Pada dasarnya seluruh bagian tanaman kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk untuk berbagai keperluan. Teknologi pengolahan, standar mutu dan sistem sertifikasinya juga sudah dikuasai oleh tenaga ahli Indonesia. Namun, berbagai kelemahan masih melekat di industri pengolahan kelapa, seperti ketersediaan bahan baku di tingkat petani dan industri yang berkembang tidak memiliki bahan baku atau kebun kelapa serta kebutuhan investasi yang relatif besar yang kurang menarik bagi para investor.
Peluang dan potensi pengembangan agribisnis kelapa dengan produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi sangat besar, dengan produk olahan yang diminati dan dapat dikembangkan oleh petani, antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), Oleochemical (OC), Desicated Coconut (DC), Coconut Milk/ Cream (CM/ CC), Coconut Charcoal, Activated Carbon (AC), Brown Sugar (BS), Coconut Fiber (CF), dan Cocon Wood (CW). Produk ini dapat diusahakan secara parsial maupun terpadu. Pelaku agribisnis produk-produk tersebut mampu meningkatkan pendapatan petani 5-10 kali lipat dibandingkan dengan bila hanya menjual buah kelapa/kopra saja.
Bagi masyarakat petani di Kecamatan Susukan dan Suruh Kabupaten Semarang, budidaya tanaman kelapa saat ini hanya sebagai tanaman sampingan yang pemeliharaan serta pasca panennya masih sangat sederhana sehingga nilai ekonominya masih rendah. Hal ini terbukti dari hasil budidaya tanaman kelapa, hanya dipanen butiran segar dan dijual dengan harga yang relatif rendah untuk dikonsumsi sebagai pelengkap masakan sayur dan dijual dalam bentuk kelapa muda.
Dalam kesempatan temu diskusi dengan narasumber dari DPRD Provinsi Jawa Tengah dan praktisi diversifikasi produk olahan kelapa (Ibu Sri Hartati, Direktur CV Tiga Putri), Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng mengajak dan memotivasi petani untuk lebih kreatif dan inovatif dalam penganekaragaman produk olahan kelapa sehingga diharapkan produk kelapa memiliki daya saing dan daya jual yang lebih tinggi, sehingga petani sukses dalam pengelolaan budidaya tanaman kelapa dan pasca panen serta pengolahannya menjadi berbagai macam produk olahan kelapa yang dibutuhkan masyarakat baik domestik maupun internasional.